Karena rakyat hampir kehilangan masa depan………
Itulah seutas kalimat yang mengiris naluri nasionalisme kita, perangkat demokrasi yakni Pemilu ; Pileg, Pilpres, Pilkada, bahkan Pilkades selama ini telah dijadikan cenderung pada orientasi kekuasaan yang eksploitativ. Memanfaatkan Pemilu sebagai ‘wadah’ untuk melegitimate eksistensi kekuasaan politik yang kapitalis. Itulah fenomena ‘demokrasi’ yang dibentuk para elite, sebuah proses panjang sejarah perjalanan demokrasi Indonseia.
Harapan untuk ‘kesejahteraan’ masih bagai fatamorgana di mata rakyat yang membentang di seluruh nusantara. Sumber daya alam yang berlimpah ruah tidak menyapa mereka dan telah direnggut para pemiliki modal ‘kapitalis’, baik yang berada dilingkaran kekuasaan maupun di lingkaran swasta. Rakyat miskin dan anak-anak terlantar hanya untuk melegitimasi ‘kedaulatan’ kekuasaan, bukan jadi beban moral kebangsaan bagi penikmat-penikmat bangsa. Rupiah yang bertriliunan berputar hanya dipusaran tangan kelas sosial elit. Dengan anugrah yang di beri sang khalik kepada Indonesia bukan hal yang mustahil rakyat miskin berkurang drastis, penganggur mengecil jumlahnya, infrastruktur mulus, pendidikan lebih murah lagi sampai perguruan tinggi, kesehatan lebih terjangkau, dll. Namun apa yang terjadi 11 tahun sudah reformasi yang menjanjikan perubahan tapi ternyata tidak jadi komitment di sanubari para penguasa dan pengusaha. Kebangkitan Nasional 20 Mei, hanya kebangkitan elit dan yang punya modal (secara nasional), tidak sampai ke rakyat miskin untuk sebuah kehidupan yang lebih terjamin dan punya masa depan yang cerah.
Itulah penyebabnya, karena ‘dosa sejarah’ rezim yang sampai hari ini masih berlangsung hingga ke daerah dan pelosok, bahkan sebagian daerah dalam kekuasaan dalam geliat para ‘pemerkosa’ hak rakyat. Yang membuat Rakyat Hampir Kehilangan Masa Depan… tidak cerdas, tidak terdidik, karena dibodohi oleh ‘peradabannya’ sendiri, sehingga membuat serba salah di mata rakyat……..
Tapi, harapan itu masih ada, kita bangun optimisme, bersama kita bangun Pilpres yang lebih bermartabat meski di lingkungan terkecil, kita sumbangkan pendidikan politik yang mencerdaskan untuk memilih capres/cawapres yang peduli rakyat walau begitu adanya, kita beri pendidikan politik yang berimbang.
Kemudian kita bermunajat kepada Allah S.W.T sang pencipta, sang penguasa alam semesta, semoga Indonesia menuju yang lebih baik, berkeadilan, serta menujua masa depan rakyat yang lebih cerah.
Kita generasi muda harus terus belajar dan belajar untuk membangun kapasitas, membangun kharakter, dan membangun kekuatan untuk kepemimpinan bangsa ini di masa akan datang. Yang tidak menjadi generasi pewaris ‘rezim kapitalis’.
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar